Kepala Brida Lampung Barat, Nowo Wibawono, mengatakan sejak
menjabat pada Oktober 2025, pihaknya fokus menjalankan tiga program strategis
yakni pengembangan Geopark Kaldera Suoh, Kampus Lapangan Geologi, dan teknologi
kultur jaringan di Kebun Raya Liwa (KRL).
"Tiga program ini kami siapkan agar potensi geologi,
pendidikan, hingga konservasi di Lampung Barat bisa memberikan manfaat nyata
bagi masyarakat," ujarnya.
1. Geopark Kaldera Suoh Terus Digenjot
Pengembangan Geopark Kaldera Suoh telah berjalan sejak 2022.
Kawasan ini dinilai memiliki potensi geologi luar biasa yang bisa dikembangkan
melalui riset, edukasi, konservasi, dan pariwisata berbasis alam.
Brida menargetkan, dengan pengelolaan berkelanjutan dan
promosi yang masif, Kaldera Suoh tidak hanya dikenal luas, tetapi juga mampu
menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar melalui sektor wisata dan UMKM.
2. Kampus Lapangan Geologi Gandeng 6 Universitas Ternama
Program kedua adalah Kampus Lapangan Geologi. Fasilitas ini
disiapkan sebagai pusat pembelajaran dan penelitian kebumian langsung di
lapangan.
Saat ini Brida telah menjalin kerja sama dengan enam
perguruan tinggi ternama, yaitu UGM, Unsri, ITERA, Unja, Unila, dan
Unpad.Keberadaan kampus lapangan ini diharapkan mengukuhkan Lampung Barat
sebagai laboratorium alam geologi Indonesia.
Dampak ekonominya pun diharapkan terasa dari kebutuhan
akomodasi, transportasi, hingga konsumsi bagi mahasiswa dan peneliti yang
datang.
3. Kultur Jaringan di Kebun Raya Liwa Jadi Primadona
BaruTerobosan paling strategis ada di Kebun Raya Liwa. Brida tengah menyiapkan
pengembangan teknologi kultur jaringan tanaman.
Kebun Raya Liwa sendiri diketahui menyimpan kekayaan flora
langka, seperti Pakis Ekor Monyet, 41 jenis tanaman obat, hingga Taman Araceae
atau Taman Anggrek.
Berbeda dengan perbanyakan konvensional melalui biji atau
stek, kultur jaringan memanfaatkan bagian kecil daun dalam kondisi terkontrol
untuk menghasilkan bibit dalam jumlah besar, seragam, dan berkualitas.
"Teknologi ini tidak hanya untuk konservasi, tapi juga
berpeluang menjadi sumber ekonomi baru jika produksi bibitnya bisa memenuhi
permintaan pasar," jelas Nowo.
Untuk mematangkan program ini, Brida menggandeng ahli dari
FMIPA Universitas Lampung, Prof. Endang Linirin dan Prof. Endang Nurwijayanti.
Kolaborasi tersebut diharapkan memperkuat kajian ilmiah,
menentukan jenis tanaman potensial, serta meningkatkan kapasitas SDM lokal.
Nowo menegaskan, keberhasilan riset tidak boleh berhenti di
atas kertas. Hasil riset harus bisa diaplikasikan dan dirasakan langsung oleh
masyarakat Lampung Barat.
LILIANA PARAMITA





