Ia ke Cilacap menemani temannya, menjenguk ibunya Aminah, warga Sugiwaras, Kelurahan Kauman, Banyumas, Jawa Tengah. Usianya sudah 80 tahun. Penyakit komplikasi. Diirawat di ruangan haemodualisa di RSUD Banyumas.
Mereka tiba di Banyumas Kamis, 14 Desember. Karena tidak tega ikut terus bersama-samanya di rumah sakit, Refli diminta menginap di Apartemen Pertamina. Malam itu ia pun tertidur lelap karena istirahat tak pernah cukup sejak dari Lampung. “Saya tidak tahu ada gempa,” katanya.
Refli terbangun karena telepon berdering terus, lalu ada pesan suara di WA. “Bangun, Gempa.” Dengan pakaian seadanya, ia langsung turun lewat tangga darurat. “Hati bergetar melihat dinding apartemen retak-retak,” katanya.
Tujuan pertamanya rumah sakit. Karena diturunkan gojek dari samping, ia tidak tahu pasien sudah diungsikan. Ia terus saja masuk ke RSUD, tempat ibu temannya dirawat. Suasana sepi. Hanya satu dua orang penjaga. Lorong-lorong semrawut. “Astagfirullah, ruangan Ibu Aminah berantakan sekali,” katanya.
Ponselnya temannya sudah tidak hidup. Ia tidak berhasil mencari mereka di bawah, tempat para pasien diungsikan. Sekitar pukul 06.00 pagi, ia mendengar ibunya temannya itu meninggal dunia dari Paula Ranty, seorang pegawai Disnaker, yang juga ke rumah sakit mencari kabar tetangganya sudah sepuh itu.
SIGIT S
0 comments:
Posting Komentar