Lava Mulai Turun dari Puncak Gunung Anak Krakatau

KALIANDA (21/7/2018) – Lava mulai mengalir turun dari Gunung Anak Krakatau dalam dua hari terakhir. Pada malam hari, alirannya membuat warna merah menyala, dan tampak jelas dari  Anyer, Banten. Di siang hingga sore, lava membuat kepulan asap di sekitarnya.

Aliran lava di malam hari berhasil diabadikan Aang Solahudin Kamil pada Malam Minggu, 21 Juli 2018. Aliran lava dan letusan pada Sabtu, 20 Juli 2018, diupload Echa Rastafarra. Banyak turis menyewa perahu dan nelayan dari Anyer untuk menyaksikannya.

Media internasional mulai setiap hari memberitakan Anak Krakatau.  Mengutip AFP dan Reuters, Straits Times dan Telegraph menyebut “Anak Legendaris” memuntahkan segumpal abu, tinggi ke langit, saat lava cair mengalir turun dari puncaknya.

Hingga Minggu, 21 Juli 2018, PVMBG, Badan Geologi Kementerian ESDM lewat pos pantau di Kalianda, mencatat letusan antara 200 hingga 550 kali pada setiap hari. Dalam laman yang terus diupdate, status Anak Krakau masih “waspada” untuk radius 1 km di sekitar gunung.

Tim www.volcanodiscovery.com, yang turun ke sekitar Anak Krakatau melaporkan stasiun seismik di bibir kawah tua banyak berubah selama erupsi dalam dua pekan terakhir. Media ini mengupload sebuah blok menghantam panel surya, hasil jepretan Tom Pfeiffer.

Bersama ahli gunung berapi, media itu juga memperlihatkan kerusakan di sejumlah pohon, dihantam breadcrust berukuran dua meter. “Menariknya, pohon tidak terbakar. Ini berarti blok yang menabraknya tidak terlalu panas,” kata Jorge, salah seorang ahli.

Tim gunung berapi itu sepakat letusan dua pekan terakhir mengeringkan semua yang ada di dekatnya. Pohon cemara dan pinus di sekitarnya tetap tumbuh  karena tanaman disiram abu Anak Krakatau terus-menerus.

Banyaknya media asing yang memberitakan Anak Krakatau, membuat turis yang hendak menyewa perahu dan kapal meningkat di Anyer. Dari hasil video Echa Rastafarra, sebagian yang naik perahu malah hanya berjarak belasan meter dari kepulan asap, yang timbul dari aliran  lava dan letusan.

GELLY

0 comments:

Posting Komentar