Kisah KH Ghalib Ditembak di Gereja pada Hari Santri

PRINGSEWU (22/20/2019) – Hj. Farida Ariyani, keturunan KH Ghalib, kembali mengurai kisah kiai dan pahlawan Lampung asal Pringsewu saat para santri dan pengurus Nahdlatul Ulama memperingati Hari Santri Nasional di makamnya, malam Selasa, 21 Oktober 2019.

Kisah KH Ghalib dimulai Farida dari perantauannya dari Jambi ke Singapura dan Johor Malaysia., bertemu Mbah Prawiro, yang memintanya mendirikan lembaga pendidikan dan mengelola pertanian di Pringsewu. Saat itu sang kiai sampai memiliki 16 unit kendaraan pengangkut hasil tani untuk membiayai para santri.

KH Ghalib datang ke Pringsewu pada Tahun 1930. Namun, kepesatan pesantrennya membuat Belanda gusar. Sang Kiai berkali-kali didatangi untuk ditembak, sehingga salah satu muridnya, Ustad Yunus menjadi korban.

Pada Tahun 1949, Belanda menangkap KH Ghalib. Membawanya ke sebuah gereja. Menembaknya di sana.

Farida mengatakan KH Ghalib memiliki keturunan dan murid yang umumnya menjadi kiai di seputar Bandarlampung. Dari sini juga nama seperti Alamsyah Ratu Prawiranegara dan mantan Kapolda Lampung Ike Edwin berasal.

Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Andi Wijaya mengatakan kisah KH Ghalib menjadi penyemangat Pemkab Pringsewu untuk memperjuangkan Sang Kiai menjadi pahlawan nasional, tidak hanya pahlawan Provinsi Lampung.

EPRIZAL

0 comments:

Posting Komentar