Rahasia Sukses Petani Kopi Luwak di Lampung Barat

LIWA (23/10/2019) – Dia dulu bekerja sebagai tukang parkir. Saat kopi luwak booming pada Tahun 2006, seseorang menawar musangnya dengan nilai Rp1,5 juta per ekor, padahal ia beli hanya Rp100 ribu.

Gunawan, tukang parkir itu pun penasaran. Ia menelusuri harga musang menjadi tinggi di Lampung Barat. Jawabannya ternyata, kopi menjadi mahal jika sudah dilumat dan  menjadi kotoran hewan tersebut.

Kopi, terutama jenis robusta, cukup banyak di Lampung Barat. Harganya per kg hanya Rp12 ribu atau bisa di bawah Rp10 ribu saat panen. Sedangkan nilai komoditas luwak bisa jutaan per kg.

Gunawan, sang tukang parkir itu pun berpikir. Satu-satunya cara meningkatkan nilai jual kopi luwak hanya dengan memiara musang dengan hati. Ia kontrol makanannya, mulai dari ayam hingga buah-buahan. Ia pelajari tingkah lakunya agar bisa berteman.

Menurut Ketua Gabungan Kopi Robusta Lampung Barat itu, banyak orang gagal menjadi petani kopi luwak karena memaksa musang. Jika tidak diberi makanan sesuai seleranya, binatang itu bisa mati dalam tempo 3 bulan.

Seekor musang, demikian Gunawan, hanya memproduksi kopi luwak setengah hingga satu kiloan. Binatang itu tidak bisa dipaksa. Petaninya pun tidak bisa memasang target sesuai permintaan pasar.

Dengan modal itu, Gunawan kini dikenal di dalam dan luar negeri. Dari modal 2 musang, dalam sekejab ia bisa memiliki 30 ekor jenis bulan dan pandan. Saat ini, ia mempunyai ratusan hewan tersebut, dengan berbagai tabiat: jinak, kandangan, dan masih liar.

Binatang itulah yang membuat harga kopi menjadi Rp150 ribu per kg dalam bentuk gerundel alias kotoran atau bernilai Rp3,5 juta setelah disangrai (coffe roasting) dan dikemas.

AHMAD SIKOTRI DAN LILIANA P

0 comments:

Posting Komentar