Para jurnalis yang umumnya berasal dari IJTI dan AJI itu datang ke Tugu Adipura dengan membawa sejumlah spanduk, di antaranya yang menyebut wartawan bukan humas, dan DPR ngawur dalam merevisi Undang-Undang Penyiaran.
Aksi berlangsung setidaknya dua jam. Para wartawan juga mengumpul kartu pers masing-masing sebagai bentuk penolakan terhadap revisi Undang-Undang Penyiaran.
Jurnalis senior televisi Andres Afandi menilai pasal wartawan tidak boleh investigasi sebagai hal yang patut dipertanyakan dan berdampak buruk terhadap pencegahan korupsi dan nepotisme di Indonesia, pada masa mendatang.
Koordinator aksi Andry Kurniawan mengatakan aksi protes tidak hanya berlangsung di Lampung, tetapi di seluruh Indonesia. Revisi UU Penyiaran dinilai mengancam kemerdekaan pers, ekspresi, dan kreativitas di ruang digital.
ARI IRAWAN
Posting Komentar