Mudik atau pulang kampung dengan cara gowes sepeda sejauh ratusan kilometer rasanya begitu nekat. Tapi bagi Riko dan Rizal yang merupakan pehobi sepeda atau gowes, tentunya memiliki kesan tersendiri.
Pemudik ini hanya berbekal beberapa pakaian, jas hujan, perlengkapan mandi dan peralatan sepeda seperti baterai penerangan saat perjalanan malam hari terikat pada stang bawah. Mereka membawa oleh-oleh kerupuk kemplang empat sampai lima bungkus.
Riko antre masuk kapal melalui parkir khusus kendaraan motor di Dermaga 2 Pelabuhan Bakauheni . Ia bersama kerabatnya, Rizal, bersemangat balik dari Kemiling, Kota Bandarlampung, menuju Serang, Banten, Jumat 4 April 2025.
Penyeberangan kali ini berbeda dengan mudik beberapa hari lalu melalui Pelabuhan Ciwandan dan turun di Pelabuhan Wika Beton, Ketapang. Mudik dengan gowes sepeda dari Serang hingga Lampung menghabiskan waktu lima sampai tujuh jam.
Mereka nekat menempuh perjalanan panjang dan melelahkan demi berlebaran di kampung halaman dan bertemu keluarga. Perjalanan ratusan kilometer diselingi istirahat sholat atau kebetulan kepergok hujan.
Rizal mengaku mudik lebaran dengan cara gowes sepeda bukanlah kali pertama tetapi sudah empat kali sejak tahun 2022. Rasa haru bercampur suka cita dirasakannya ketika bertemu dengan keluarga dan kerabat.
Kondisi medan tanjakan, cuaca panas hingga hujan tidak menyurutkan semangat mengayuh sepeda demi bisa bertemu keluarga. Mudik bersepeda lebih sehat, tidak kena macet, dan irit biaya.
Rizal mudik dengan gowes sepeda hanya bersama kerabatnya. Sementara istri dan anak berlebaran di rumah Serang, Banten. Mudik dua tahun lalu, ia juga bersepeda tetapi istri dan anak naik kendaraan umum.
ADI SUSANTO
0 comments:
Posting Komentar